Dengan Unit Usaha Sederhana, BUMDes Ini Jadi Yang Terbaik Di Sulut

DESA Kapoya Kecamatan Tareran, Minahasa Selatan (Minsel), berjarak sekira tujuh kilometer dari ibu kota kabupaten, Amurang. Kapoya menjadi desa paling baik mengolah BUMDes. Tak hanya mampu mengolah usaha, masyarakat juga diberdayakan. Nama BUMDes Kamang Wangko.

Kantornya berlokasi tepat di tengah desa. Di belakang kantor hukum tua. BUMDes ini dicanangkan tahun 2014. Setelah melalui berbagai proses administrasi, BUMDes Kamang Wangko resmi beroperasi melayani masyarakat di pertengahan 2017. “Sekitar Mei 2017 kita dapat penyertaan modal 75 juta. Juni, BUMDes mulai berjalan,” ujar Sekretaris BUMDes Fitria Tengko saat ditemui wartawan koran ini. Di awal perjalanan, produk pertama yang disepakati adalah bekerjasama Bank BNI 46. Jadilah BUMDes Kamang Wangko sebagai Agen 46.

“Dari situ, banyak warga tidak tahu menabung, jadi suka menabung. Tidak tahu rekening, kita bantu. Ada 210 warga kami fasilitasi membuka rekening BNI 46 supaya mereka bisa menabung,” ujar Bendahara BUMDes Anita Purukan.

Usaha makin lancar. Bak kantor cabang bank, setiap hari pengurus BUMDes disibukkan dengan aktivitas transaksi tarik setor tunai. Tak sampai di situ, BUMDes Kamang Wangko berkembang terus. Menjadi desa sadar jaminan sosial ketenagakerjaan. Melalui BPJS Ketenagakerjaan, 133 lebih warga menjadi peserta melalui program BUMDes. Keadaan desa yang notabene masyarakat seorang petani, membuat pengurus BUMDes sepakat membeli alat pertanian untuk disewakan.

“Ada pemaras rumput, penyemprot, dan sebagainya. Warga desa pinjam di luar mahal. Ratusan ribu keluar. Kalau di sini sehari sewa cuma 20 ribu. Bensin ditanggung sendiri,” tambah Purukan. Ada juga satu set alat musik bambu besar lengkap berada di dalam ruangan kantor BUMDes. “Di dalam kami juga menyewakan alat musik kolintang, kemudian kursi pengantin lengkap,” ujar Sekretaris BUMDes Fitria.

Di belakang meja pelayanan BUMDes, Kasie Pelayanan Santi Muaja terlihat sibuk mengatur kertas. Ternyata dia memamerkan alat-alat usaha baru. Sebuah mesin fotokopi yang sedang asik mencetak kopian kertas. Bisnis fotokopi merupakan salah satu unit usaha milik BUMDes Kamang Wangko.

Kepala Sekolah SD GMIM Kapoya Sance Rantung salah satu yang terbantu dengan adanya usaha mesin fotokopi dari BUMDes. “Biasanya kami harus ke Tumpaan untuk sekadar fotokopi. Itu harus menempuh 7 kilo perjalanan dari Kapoya. Berkat adanya mesin fotokopi di sini, para guru terbantu sekali,” ujarnya, sambil menghitung lembaran kertas fotokopi miliknya.

Berkat kemauan kerja, BUMDes kini berjalan lebih dari 15 bidang usaha. Di antaranya, Laku Pandai atau Bank Mini, BPJS Ketenagakerjaan, Sewa Paumungan, meja, kursi, alat-alat pertanian, pengelolaan sampah dan motor sampah, pengelolaan WC umum, penjualan sembako, pupuk, semen, dan lainnya. Semua dirintis sejak 2017. Tahun ini BUMDes Kamang Wangko menjadi BUMDes terbaik se-Provinsi Sulut.

Hukum Tua Desa Kapoya Marthen Laoh selaku penasehat BUMDes mengakui kerja keras Ketua BUMDes Romel Emes beserta semua perangkat desa. “Sempat ada kunjungan semacam studi banding terkait BUMDes dari Provinsi NTT. Ini menunjukkan BUMdes di Desa Kapoya telah menjadi contoh. Dari Kementerian Keuangan juga datang dan mengapresiasi BUMDes Kamang Wangko,” ujarnya.

BUMDes ini beroperasi dari jam 9 pagi sampai empat sore. Para perangkat BUMDes punya operasional untuk melayani masyarakat desa. Meski tergolong kategori pengusaha baru, BUMDes Kamang Wangko dianggap sukses. Aset usaha terus bergerak. Kini omsetnya sudah mencapai puluhan juta per bulan. Bahkan sudah bisa menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PAD-Des).

Disebutkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Minsel Efer Poluakan, BUMDes Desa Kapoya menjadi salah satu yang terbaik di Minsel dan sudah mampu menghasilkan PADdes. “BUMdes mereka sangat terakomodir bagus. Mereka mendapatkan penyertaan modal langsung bergerak dan sampai saat ini bisa sukses. Ini perlu dicontoh desa-desa lain di Minsel. Memang penting BUMDes bisa menghasilkan PAD-Des. Namun yang utama pemberdayaan masyarakat desa. Ini saya lihat ada di BUMDes Kamang Wangko Desa Kapoya,” pungkasnya.

sumber berita

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *