PPDI Sumatera Barat Desak Pemerintah Untuk Cabut Peredaran Buku Prof. Dr. Hanif

Jakarta – Gelombang protes dari perangkat desa diberbagai wilayah menanggapi komentar dari Prof Dr Hanif Nurcholis, guru besar Universitas Terbuka (UT) terus bermunculan melalui berbagai linimasa media social.

“Kenapa saya melakukan riset dan menyusun buku ini, karena dilatarbelakangi keprihatinan terhadap masyarakat desa. Desa tidak ada kemajuan karena perangkat desanya tidak bekerja. Yang bekerja itu masyarakatnya dengan adat gotong royong. Pemerintah desanya enggak kerja,” katanya usai bedah buku karangannya berjudul Pemerintah Desa, Nagari, Gampong, Marga, dan Sejenisnya di Kampus UT, Pondok Cabe, Tangsel, Rabu (18/12).

Dia menyebutkan, kerja perangkat desa hanya tiga. Yaitu tukang tagih pajak, tukang buat KTP dan surat keterangan lainnya, serta tukang awasi proyek pemerintah pusat.

Dari Sumatera Barat melalui Ketua PPDI Propinsi, Nofrianto mengecam keras dengan pernyataan tersebut,

“ Kami menuntut permintaan maaf dari Prof. Dr. Hanif Nurcholis atas beberapa pernyataannya yang menciderai perangkat desa,” ujar Nofrianto melalui sambungan seluler.” Dan kami menuntut peredaran buku tersebut untuk dicabut.”

Nofrianto menilai pernyataan tersebut sangat mendiskreditkan profesi perangkat desa, untuk itu PPDI Sumatera Barat sangat-sangat mengutuk keras statemen yang dikeluarkan seorang guru besar yang bergelar professor.

Hal senada juga muncul dari berbagai wilayah di Indonesia, rata-rata mendorong kepengurusan PPDI ditingkat pusat untuk segera mengambil tindakan terhadap pernyataan pedas yang memandang rendah profesi perangkat desa.

Sementara itu Sarjoko, S.H Sekjen PPDI mengatakan bahwa PP PPDI tidak akan berdiam diri dengan pernyataan  yang dikeluarkan oleh Prof. Dr. Hanif, komunikasi dengan berbagai pihak sedang ditempuh untuk melakukan langkah-langkah startegis berikutnya.

2 komentar untuk “PPDI Sumatera Barat Desak Pemerintah Untuk Cabut Peredaran Buku Prof. Dr. Hanif”

  1. Konteks penulisan ilmiah..yang baca tentu bisa mencerna dengan arief..dan dgn dasar keilmuan ..jgn jadikan nafas kebencian namun kasih dong koreksi dengan argumen ilmiah ..apa yang ditulis… baru itu sehat…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *