Berita,  Serba-serbi

Mbah Mudjair, Perangkat Desa Dan Asal Usul Nama Ikan Mujair

Blitar – Mbah Mudjair merupakan penemu ikan mujair asal Blitar. Perjalanan panjang ditempuhnya untuk mendapatkan ikan yang sekarang sudah dikenal di seluruh pelosok negeri ini. Berikut fakta-faktanya yang dilansir dari detik.com :



1. Ikan Mujair Ditemukan Sejak Tahun 1936

Tahun ini, tak terasa sudah 86 tahun ikan mujair ditemukan pertama kali di Blitar. Saksi hidup penemuan ikan mujair yakni Munir, putra almarhum Mbah Mudjair. Dia merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara.

Meskipun usianya sudah memasuki kepala delapan, namun ingatannya tentang kisah sang ayah menemukan ikan mujair masih jelas. Munir masih lancar menceritakan ulang kisah sang ayah tersebut.

“Waktu itu saya masih kecil, mungkin sekitar usia 3 tahun,” kata Munir kepada detikJatim di Lingkungan Jajar, Kelurahan/Kecamatan Kanigoro, Blitar, Selasa (19/4/2022).

Munir menyebut, ikan ini ditemukan pada 25 Maret 1936 saat itu di rumahnya sering didatangi orang untuk melihat temuan sang ayah. Bahkan, ikan sang ayah ini diminati warga Belanda.

“Ketika itu rumah saya sering didatangi orang untuk melihat ikan yang ditemukan bapak,” tuturnya.



2. Berawal dari Dua Ikan

Bagaimana tidak, ikan mujair memang spesial. Mbah Mudjair membawa langsung ikan dari air laut untuk dibudidayakan di air tawar. Meski sempat gagal berkali-kali karena ikannya kerap mati saat dibawa ke kolam air tawarnya.

Tak disangka, dua ekor ikan yang dibawa Mbah Mudjair membawa rezeki tersendiri. Sebab, tak berselang lama ikan tersebut terus berkembang biak dengan jumlah yang banyak.

Dari situlah dirinya mulai dikenal oleh banyak orang, karena berhasil mengembangkan ikan laut atau air payau menjadi ikan air tawar.

Munir menambahkan, nama mujair yang dijadikan nama ikan ini merupakan ketidaksengajaan. Saat itu, banyak pejabat yang datang ke kediamannya untuk melihat ikan ini. Nama tersebut pun muncul secara spontan.

“Dulu pejabat daerah sampai pejabat Belanda datang ke rumah untuk melihat ikan itu. Karena belum ada namanya, orang Belanda itu tanya nama bapak saya, dan kemudian ikannya diberi nama seperti nama bapak saya. Yaitu ikan mujair,” imbuhnya.



3. Perjuangan Mbah Mudjair Berjalan Kaki 35 Km Demi Ikan Mujair

Munir mengaku, ayahnya melakukan perjalanan yang cukup panjang, sebelum mendapatkan ikan mujair. Bahkan ada cerita menarik saat pemberian nama pada ikan tersebut.

Kala itu, Mbah Mudjair yang merupakan perangkat desa mengikuti kegiatan Suroan pada 25 Maret 1936, yang juga bertepatan dengan peringatan 1 Muharam 1355 Hijriah yang digelar di Pantai Serang, Kecamatan Panggungrejo. Di sana, Mudjair bersama rekannya menangkap ikan dengan menggunakan serit atau kain jarit.

“Semua ikan yang dibawa dari pantai, semua mati saat sampai di rumah. Tapi bapak enggak habis akal untuk terus mencoba, dan ingin tahu kenapa kok ikan-ikan dari air payau ditaruh di kolam terus mati. Beliau pun sampai bolak-balik dari rumah ke pantai Serang,” ungkapnya.

Bahkan, Mbah Mudjair melakukan perjalanan sekitar 10 kali bolak-balik antara Pantai Serang ke Desa Papungan. Dengan jarak sekitar 35 kilometer (km) pun ditempuh dengan berjalan kaki selama 2 hari 2 malam untuk setiap perjalanan membawa ikan.

Akhirnya ada dua ekor ikan yang berhasil bertahan hidup di dalam kolam miliknya.

“Tiap seminggu sekali beliau cari ikan, dibawa pulang tapi mati terus. Sampai 10 kali dibawa akhirnya, sisa dua ekor saja yang hidup. Beliau dulu jalan kaki lewat hutan, belum ada sepeda ataupun angkutan,” ceritanya.

4. Dapat Sejumlah Penghargaan

Atas temuan ini, banyak pejabat Blitar hingga Belanda yang menemuinya. Mbah Mudjair pun mendapat beberapa piagam penghargaan. Piagam tersebut diberikan berkat jasanya, dalam menemukan ikan dengan spesies baru.

Namun, kini piagam tersebut hanya tersisa tiga lembar dan dipajang di ruang tamu.

Selain itu, Mbah Mudjair juga terkenal menyukai ikan. Dia memiliki beberapa kolam untuk membudidayakan ikannya. Saat itu, ada lele hingga gurami yang dipeliharanya.

“Ya sekarang yang masih ada cuma piagam, makam, sama kolam ikannya. Ada tiga kolam sebenarnya, cuma tinggal satu yang masih ada di belakang rumah yang lama,” terang Munir.

Munir berkeinginan untuk melestarikan kolam ikan yang merupakan peninggalan bersejarah sang ayah. Dia berencana menyempatkan waktu mengunjungi kolam selagi tenaganya masih kuat. Selain itu, dia juga akan menceritakan kisah penemuan ikan mujair itu ke generasi penerusnya.

“Ini peninggalan sejarah bagi keluarga, sudah sekitar 86 tahun jadi saksi penemuan ikan mujair. Dan semoga nanti tetap bisa dilestarikan dan diingat oleh generasi setelah saya,” katanya.

5. Meski Telah Berpulang, Temuan Mbah Mudjair Selalu Dikenang

Ikan mujair yang kini banyak digemari masyarakat ternyata merupakan temuan Mbah Mudjair. Saat ini, Mbah Mudjair telah meninggal dunia. Namun, peninggalannya akan abadi di masyarakat.

Ikan mujair ini dtemukan pada tahun 1936. Sementara Mbah Mudjair menghembuskan nafas terakhirnya pada 7 September 1957. Nama Mbah Mudjair akan selalu dikenang sebagai penemu ikan mujair. Hal ini juga diabadikan dalam nisannya, di mana ada gambar ikan mujair di sana.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *