Nepotisme Terpaksa Ala Kades Salam

Tindakan nepotisme dengan mengangkat perangkat desa dari keluarga kades. Ini terjadi di Desa Salam Buku Kecamatan Batang Masumai diakui secara terang-terangan oleh Zulkifli yang saat ini menjabat kepala desa, ketika dibincangi awak media, Sabtu (28/9/2019).

“Di desa Salam Buku tu yo keluarga aku galo, khusus generasi muda yang memenuhi syarat sebagai perangkat, dikato Nepotisme yo macam mano lagi, awak keluarga galo, cuma ado yang sekilan (dekat) ado yang seito ( jauh),” ujar Zulkifli.

Soal perangkat desa yang mayoritas dijabat oleh keluarga kades, dijelaskannya bahwa kondisi tersebut terjadi nyaris karena terpaksa sebab menurutnya tak ada warga Salam Buku dan memenuhi keriteria yang berminat menjabat perangkat desa.

“Kito buka pendaftaran dakdo yang mau, bahkan sampai disusul kerumah, padahal saya sudah buat pengumuman. Sempat ada yang mau jadi bendahara dan sekdes setelah di SK-kan dio nolak, jadi ya susah cari perangkat di Salambuku ini,” tambah Zulkifli.

Makanya, kata Zulkifli dia mengangkat anak kandung sebagai jurubayar alias bendahara (kaur keuangan), adik ipar sekdes, keponaan dan cucu sebagai Kaur dan Kadus karena semua warga salam buku adalah keluarga. Hanya saja persoalannya tinggal hubungan keluarga dekat dan jauh saja.

Lalu saat ditanya bagimana hubungan keluarga dengan mantan Sekdes Salam Buku atasnama Rustam, menurut pandangan Rustam ia di pecat secara tersirat beralasan karena bukan bagian dari keluarga kades, namun hal ini dibantah Zulkifli

“Payah sayo nak nyebut, semua keluarga sayo, termasuk rustam mantan sekdes, kelurga sayo jugo, dio saya pecat karena kinerjanya kurang sejalan lagi dengan sayo,” ujar Zulkifli lagi.

Sementara itu, mantan Sekdes Salam Buku Rustam saat dikonfirmasi media ini terkait hal ini bercerita lantang kondisi Salam Buku dibawah kepemimpinan Zulkifli. Dan secara tegas ia membantah punya hubungan keluarga dengan kades.

“Setidaknya sekeluarga karena seiman, itu pesan nabi sesama muslim bersaudara. Untuk hubungan kekeluargaan tidak ada hubungan dengan kades, saya dipecat secara tersirat alasannya ya karena sayolah yang bukan keluarga dio,” kata Rustam.

Memang, secara tertulis, ada tiga poin alasan pemberhentiannya oleh Zulkifli. Pertama, tidak bisa bekerja sama dengan baik, kedua, tidak bisa mengelola administrasi desa dengan baik dan benar sementara yang ketiga kata Rustam sudah menyerang personal.

“Disitu bunyinyo, kasarnyo dio bilang sayo dak beradab, seperti itulah intinyo dan lebih ke pribadi sayo. Alasannya lagi sayo dak biso diajak berunding, kalo runding baik oke, kalo runding buruk tentu saya dak mau,” ujar Rustam.

Seharusnya menurut Rustam, sebelum pemecatan sebagai Sekdes seyogyanya ia diberi teguran atau surat peringatan pertama dan kedua. “Tetapi ini tidak, langsung dikasih surat, berhenti kau,” kata Rustam menirukan cara Zulkifli menyampaikan surat pemberhentinnya pada akhir tahun 2018.

Bicara tak ada peminat dari warga Salam buku guna mengisi jabatan perangkat, menurut Rustam tidak logis dan murni mengada-mengada. Secara ekonomis perangkat digaji besar dan tak mungkin warga usia produktif memenuhi sayarat terang Rustam tak mau jadi perangkat desa.

“Ya jelas, peluang tak diberikan, kades berlindung dibalik hak preogatif, warga produktif ada sekitar 1.000 orang, payu taruhan kalau dibilang tak ada yang berminat, perangkat kerjanya ringan gaji lumayan besar, tunjangan ada namun peluang memang tak diberikan kepada khalayak,” pungkas Rustam.

Untuk diketahui, saat ditanya kepada Kades Salam Buku berapa jumlah warga di desa salam buku menurut penuturan Zulkifli yakni sekitar 800 kepala keluarga (KK) dan sekitar 2.300 jiwa.

sumber berita

Berita terkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *