Rote Ndao, Ujung Selatan Indonesia

Rote Ndao, adalah kepulauan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, terletak paling selatan dari wilayah Indonesia. Sejak tahun 2002, kepulauan ini berstatus kabupaten, dan diberi nama Kabupaten Rote Ndao dengan Ibukota di Baa, luas wilayah sekitar 1.731 km², dan jumlah penduduk pada 2000 sebanyak 76.352 jiwa.

Nama “Rote Ndao” berasal dari nama dua pulau yang merupakan bagian dari wilayah ini, yaitu: Pulau Rote dan Pulau Ndao. Sebenarnya, ada 96 pulau di wilayah kabupaten ini, namun hanya enam pulau yang berpenghuni, yaitu: Pulau Rote, Pulau Usu, Pulau Nuse, Pulau Ndao, Pulau Landu, dan Pulau Do’o.

Kabupaten Rote Ndao terkenal dengan penduduknya, orang-orang Rote, berikut budidaya lontar, wisata pantai, musik Sasando, dan topi adat Ti’i langga. Bagaimanakah kondisi geologi daerah tersebut? Dan, apakah implikasi dari posisinya yang terletak paling selatan dari wilayah Indonesia itu?

Ndao-9
Fosil Halobia sp. di dalam Formasi Aitutu. Foto: Fauzie Hasibuan

Akses Kesampaian Daerah
Transportasi menuju Rote dapat menggunakan kapal laut atau feri dari pelabuhan Teluk Kupang. Terdapat kapal cepat, namun jadwalnya hanya sekali dalam sehari. Selama dalam perjalanan, kapal feri melewati karamba dan tempat budidaya mutiara sambil dikawal lumba-lumba yang bercanda berloncatan di permukaan laut. Penerbangan perintis telah diperkenalkan dari Kupang ke Pulau Rote, namun jadwalnya belum tetap.

Baa, ibukota kabupaten, merupakan kota kecil, dan pelabuhan feri berdekatan dengan kantor pemerintahan. Apabila ingin menginap di tengah kota, pengunjung tidak perlu menggunakan jasa transportasi, kecuali membawa barang-barang yang banyak.

Cuaca
Cuaca di daerah ini seperti daerah-daerah kepulauan lainnya cukup panas dan kering. Kesuburannya sangat rendah, yang disebabkan oleh bebatuan yang membangunnya, seperi batugamping, batu karang, dan sedikit tanah pertanian yang subur, namun demikian, beberapa jenis tanaman palawija masih cukup luas terkelola. Tanaman keras seperti kelapa, lontar, jambu mete, dan lain-lain, dikelola dalam bentuk perkebunan.

Ndao-10
Fosil Monotis salinaria di dalam Formasi Aitutu. Foto: Fauzie Hasibuan

Cuaca yang panas tersebut terkadang menjadi pemikat para wisatawan asing untuk berjemur (sun bathing) di sepanjang pantai yang sangat indah. Dalam cuaca panas tersebut berhembus angin sejuk yang segar, sehingga tidak terus-menerus dalam kegerahan. Angin sejuk tersebut dipercayai merupakan angin yang berasal dari Australia.

 Geologi Daerah Setempat
Dari segi potensi sumber daya alam, Badan Geologi telah menerbitkan peta geologi, dan melakukan penelitian-penelitian yang terperinci guna menginventarisasi sumber daya alam (energi dan mineral) yang kemungkinan ada. Paling tidak, Badan Geologi dapat menggunakan Kepulauan Rote Ndao sebagai laboratorium alam untuk penelitian
dan dapat dikembangkan wisata alam (geowisata), yang sekaligus meningkatkan tujuan pemerintah untuk melestarikan objek-objek geologi berdasarkan peraturan pemerintah dalam menciptakan kawasan lindung geologi.

Ndao-11
Fosil belemnit di dalam Formasi Wailuli. Foto: Fauzie Hasibuan

Batuan Penyusun
Batuan tertua yang tersingkap di Pulau Rote Ndao ialah Formasi Aitutu, terdiri atas perselingan tipis batulanau beraneka warna (merah, coklat, kelabu, kehijauan) dengan napal dan batugamping. Batupasir kuarsa, batupasir mikaan, rijang dan batugamping hablur, merupakan sisipan tipis yang terdapat di dalamnya. Bagian atas formasi ini terdiri atas perlapisan kalsilutit putih agak kekuningan, mengandung urat kalsit dengan serpih yang berwarna kelabu. Berdasarkan fosil Halobia sp. dan fosil Monotis salinaria yang ditemukan di dalam batulanau berwarna coklat kemerahan, umur Formasi Aitutu ini adalah Trias Akhir (antara 235 – 208 juta tahun lalu). Beberapa peneliti memasukkan formasi ini kedalam Kekneno Serie. Formasi Aiututu yang tersingkap di sekitar Namodale sebanding dengan formasi yang tersingkap di Timor Leste. Tebal formasi ini diperkirakan mencapai 1.000 m.

Formasi Wailuli di atas Formasi Aitutu, terdiri atas kalkarenit, serpih lanauan, napal, grewak, yang umumnya berwarna kelabu sampai kehijauan. Perlapisan batuannya secara umum baik dan belum mengalami deformasi yang kuat. Formasi ini mengandung fosil Belemnopsis sp., yang menunjukkan umur Jura Akhir (157-145 juta tahun lalu). Di daerah Oitbolan, sebelah barat Kolbano, Timor Barat, ketebalannya mencapai 450 m. Sebelumnya, penyebaran formasi ini di Kepulauan Rote Ndao tidak terpetakan, kecuali di Timor Timur (sekarang Timor Leste), dan beberapa peneliti menggabungkannya ke dalam Ofu Serie.

Ndao-12
Fosil belemnit dari dalam batuan yang berumur Perem. Foto: Fauzie Hasibuan

Formasi Nakfunu menindih Formasi Wailuli, terdiri atas batulanau rijangan, mengandung fosil radiolaria, serpih rijangan dengan radiolaria, napal lanauan, rijang radiolaria dan kalsilutit. Jenis radiolaria yang ditemukan antara lain Dictiomitra sp., yang menunjukkan umur Kapur Awal (Albian, atau 112 – 97 juta tahun lalu). Tebal formasi ini mencapai 600 m. Semua formasi-formasi batuan tersebut ditutupi oleh batuan yang lebih muda, yang umumnya terdiri atas terumbu karang.

Tektonik
Tektonik Kepulauan Rote Ndao sama dengan yang dialami oleh Pulau Timor. Berdasarkan data paleontologi dapat disimpulkan, bahwa Formasi Aitutu telah mengalami pembalikan yang disebabkan oleh pengonggokan formasi tersebut ke tempatnya sekarang melalui proses kelopak (nappe, downsliding) dari tempat lain. Oleh karenanya, tektonika Kepulauan Rote Ndao ini lebih dapat dipahami dengan buktibukti kandungan fosilnya, yang posisi stratigrafi fosil Halobia berada di atas fosil Monotis, padahal secara
biostratigrafi, seharusnya sebaliknya. Singkapan batuan semacam ini dapat dilihat di pantai Tulandale, Kecamatan Lobalain (S100 42’ 43,1”, S1230 03’ 29,2”).

Ndao-13
Tanjung Termanu yang indah dekat Baa. Foto: Fauzie Hasibuan

Mud Volcano
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepulauan Rote Ndao secara geologi lebih mudah dipelajari dan kemudian diterapkan pada daerah lain yang lebih rumit, seperti Pulau Timor. Singkapansingkapan batuan di daerah ini menghasilkan lanskap yang unik dan menarik, indah untuk dinikmati. Tanjung Termanu, misalnya, merupakan bukit kecil yang unik dan secara geologi terdiri atas batuan Formasi Wailuli yang berumur Jura dan Formasi Nakfunu yang berumur Kapur Awal.

Hal yang lebih menarik lagi adalah adanya poton (mud volcano) dalam fasa akhir di desa Bareta (S100 34’ 02,5”, S1230 16’ 49,0”). Di daerah ini banyak ditemukan poton dan sering membantu pengungkapan geologi daerah ini. Pada suatu poton ditemukan fosil amonit (Timorites sp.) yang berumur Perem Tengah (antara 256 – 250 juta tahun lalu),
padahal singkapan batuan yang berumur sama belum ditemukan di daerah ini. Ini membuktikan, bahwa aktivitas poton dapat mendorong batuanbatuan yang lebih tua ke permukaan berupa fosil tersebut.

Ndao-14
Sisa aktivitas poton di desa batu berketak. Foto: Fauzie Hasibuan

Di bagian selatan di desa Nembrala (S100 49’ 49,7”, S1220 58’ 17,7”), terhampar pantai berpasir putih dengan air laut biru dihiasi terumbu karang yang beraneka ragam, cocok untuk tempat beristrahat sambil berjemur (sun bathing), dan dilindungi pepohonan bakau dari sengatan langsung sinar matahari. Laut di sekitar pantai ini juga tempat masyarakat bercocok tanam rumput laut yang sangat bersih.

Beberapa daerah mempunyai lokasi-lokasi yang sangat indah untuk dikunjungi oleh wisatawan, seperti Tanjung Termanu dan sisa akhir aktivitas poton (mud volcano).

Kawasan Lindung Geologi
Berdasarkan data geologi, terutama Kepulauan Rote Ndao perlu dijadikan Kawasan Lindung Geologi yang didukung oleh keragaman budayanya yang sungguh unik. Dampak predikat sebagai Kawasan Lindung Geologi bukan saja akan merupakan rencana tata ruang wilayah (RTRW) setempat, tetapi juga seharusnya telah mulai berbenah untuk dapat menjadi kandidat daerah penyangga bagi perkembangan industri di masa depan.

Ndao-15
Tanjung Termanu dari kejauhan. Foto: Fauzie Hasibuan

Implikasi dari Posisi Paling Selatan
Karena letaknya di posisi paling selatan dari wilayah Indonesia, sudah seyogyanya dilakukan perhatian tersendiri terhadap wilayah Kabupaten Rote Ndao ini, baik untuk segi keamanan negara maupun dari segi potensi sumber daya alam dan budaya yang ada. Dengan berkembangnya dunia industri di kemudian hari, maka perhatian terhadap potensi-potensi ini harus segera dilakukan. Apabila perkembangan industri sudah mulai, misalnya saja industri migas, baik yang ditemukan di Kepulauan Rote atau di daerah sekitarnya, sudah dapat dipastikan kepulauan ini akan berkembang, terutama sebagai daerah penyangga. Prediksi ini dapat dipahami karena kepulauan Rote Ndao merupakan lokasi yang terdekat sebagai penyangga dan didasarkan atas keekonomian industri-industri tersebut nantinya. Dalam kaitan ini, perhatian terhadap budaya yang mungkin dapat terpengaruh, baik secara negatif ataupun positif, dapat dijadikan sebagai nilai tambah perekonomian setempat.

Selain itu, posisinya yang berbatasan dengan Samudra Hindia menjadikan kepulauan ini rawan dari segi keamanan. Misalnya, penyelundupan atau mungkin kekhawatiran oleh adanya invasi dari negara-negara lain. Hendaknya kita jangan melupakan Rote Ndao.

sumber berita

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *