Berita,  Berita Daerah

Tidak Mau Hanya Andalkan Siltap, Perangkat Desa Ini Sukses Raup Cuan Dari Bisnis Hampers

Dampak pandemi Covid-19 yang tak berunjung menuntut masyarakat harus kreatif untuk menambah penghasilan. Seperti yang dilakukan Marina Celya Valentine. Meski dia menjadi perangkat desa, tetap tekun menjalankan usaha hampers hingga karangan kado unik.



Dilansir dari jawapos.com, hidup mandiri pada usia muda bukanlah hal mudah. Namun, semangat dan tekad yang kuat mampu menepiskan halangan. Seperti Marina Celya Valentine. Kebiasaan mandiri yang didapat selama menjadi mahasiswa di tanah rantau tetap diterapkannya saat di rumah.

Gadis yang kerap disapa Marina itu merupakan salah seorang perangkat di Desa Ngreco, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar. Tugasnya, sudah pasti melayani warga desa. Menyusun laporan keuangan dan sebagainya juga menjadi kewajibannya.

Di balik seragam yang kerap digunakannya, Marina rupanya juga seorang pengusaha. Dia pengusaha hampers dan karangan kado unik. Unik karena setiap karangan atau hampers yang diproduksi handmade. Selain itu, hampir setiap karangan kado yang tak sama antara satu dan lainnya.

“Dulu awalnya usaha jilbab, sekalian buket jilbab. Tapi lama-kelamaan ada yang minta buket dengan bentuk lain, ya sudah diterima saja,” tuturnya.



Marina mengaku mulai menjajal usaha kado unik sekitar lima bulan terakhir. Tingginya peminat membuat usahanya kian melambung. Padahal menjajal usaha di tengah pandemi juga menjadi tantangan tersendiri.

“Mungkin juga karena enggak terbatas sama satu produk atau karya. Tapi hampir semua jenis buket diterima. Istilahnya made by order. Jadi akan dibuatkan sesuai dengan permintaan pelanggan,” kata gadis berusia 24 tahun itu.

Kreativitas dan keterampilan dalam membuat buket atau hampers kado menjadi kebutuhan utama. Termasuk harus telaten dan teliti dalam menyusun rangkaian bunga ataupun snack yang akan digunakan untuk membuat buket. Hebatnya, Marina mengerjakan semua pesanan buket tersebut seorang diri.

“Enggak lama kok buatnya. Satu jam selesai kalau modelnya biasa. Balik lagi ke permintaan. Kalau susah ya agak lama karena harus disesuaikan,” terangnya.

Marina melanjutkan, buket atau karangan dengan bahan uang cukup banyak diminati. Namun, dalam proses pembuatannya cukup memakan banyak waktu. Sebab, uang yang digunakan harus benar-benar dalam kondisi bagus alias tidak lusuh. Selain itu, uang juga harus dimasukkan dalam plastik satu per satu sebelum disusun.

Dalam seminggu dia dapat membuat sekitar 12-20 buah buket maupun hampers. Tak adanya patokan harga membuat usaha kado uniknya makin dilirik para pelanggan. Bahkan, tak hanya dari wilayah Blitar, tapi juga hingga luar provinsi. Di antaranya Jakarta, Bandung, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).



“Saya enggak matok harga khusus. Semua buket atau hampers disesuaikan budget/uang pelanggan. Misal, mereka ada uang Rp 50 ribu, minta buket, ya akan dibuatkan sesuai anggarannya,” bebernya.

Terkait saingan usaha yang kian marak, Marina mengaku tak takut. Menurut dia, setiap usaha yang dibuat secara handmade sudah pasti memiliki ciri khas tersendiri. Termasuk usaha milikinya. Selain itu, gadis berambut panjang itu juga menyebut tak perlu memikirkan profit atau keuntungan dalam memulai bisnis usaha.

“Kalau dibilang lumayan ya lumayan untuk tambahan penghasilan. Apalagi di tengah pandemi. Tapi kalau untuk usaha di awal, ini masih belum seberapa. Jadi yang penting harus bisa putar penghasilan untuk mengembangkan usaha ini sendiri,” jelasnya. 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *